Ayat Mengenai Malam Tidak Mungkin Mendahului Siang

Tidak akan mungkin terjadi malam mendahului siang atau siang yang mendahului malam, keduanya terjadi silih berganti seperti apa yang terjadi sekarang. Allah,swt berfirman dalam QS Yasin ayat 40 : "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya"

Kata-kata yang penting diperhatikan adalah tad'rika=membentur/mengejar, saabiqu=mendahului, dan yasbahuun=mereka berenang (beredar). Apa sebabnya matahari tidak mungkin membentur bulan atau malam tidak mungkin mendahului siang karena masing-masing matahari dan bulan beredar pada garis edarnya masing-masing.

Kata yasbahun berasal dari akar kata sabaha yang berarti pergeseran dari tubuh yang bergerak. Hal itu dinamakan ”berenang” jika terjadi didalam air, dan jika di darat dia berarti berjalan atau berlari. Karena matahari dan bulan terjadi dialam raya maka kata yang digunakan menggunakan arti aslinya.
Sekarang kita ketahui bahwa matahari membutuhkan waktu 25 hari untuk berputar pada porosnya (ini dapat diketahui karena adanya bintik hitam didalam matahari ), dan selain itu juga matahari bergerak mengelilingi angkasa dengan kecepatan 240 Km per detik yang membutuhkan waktu 200 juta tahun untuk menyelesaikan satu kali putaran revolusi di dalam galaksi kita Milky Way. Penemuan modern menyatakan bahwa matahari dan bulan bergerak dengan orbit yang berbeda. Matahari bergerak dalam suatu solar sistem yang dinamakan solar apex, didalam constellasi hercules. Bulan berputar pada dirinya (rotasi) dalam waktu melakukan edaran disekitar bumi, kira-kira 29 ½hari untuk menunjukan bentuk aslinya.

Penafsiran QS Yasin ayat 40

"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan."

Mujahid mengatakan bahwa matahari dan bulan masing-masing mempunyai batasan tersendiri yang tidak dapat dilampaui oleh yang lainnya, tidak dapat pula dikurangi oleh yang lainnya. Apabila masa kemunculan yang satu tiba, maka yang lainnya pergi; begitu pula sebaliknya bilamana yang lainnya datang, maka yang satunya pergi. Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan" Bahwa hal tersebut terjadi di malam munculnya bulan sabit. Ibnu Abu Hatim dalam bab ini telah meriwayatkan dari Abdullah ibnul Mubarak yang mengatakan bahwa sesungguhnya angin itu mempunyai sayap, dan sesungguhnya bulan itu beristirahat di tempat yang ditutupi oleh air. As-Sauri telah meriwayatkan dari Ismail ibnu Abu Khalid, dari Abu Saleh, bahwa makna yang dimaksud ialah cahaya yang ini tidak dapat menyusul cahaya yang itu, demikian pula sebaliknya.
Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. Maksudnya, matahari dan bulan mempunyai kekuasaan tersendiri. Karena itu, tidak pantas bagi matahari terbit di malam hari.

"dan malam pun tidak dapat mendahului siang."

Yakni tidaklah pantas bila malam hari, lalu berikutnya malam hari lagi, sebelum adanya siang hari di antara keduanya; kekuasaan matahari di siang hari, dan kekuasaan bulan di malam hari. Ad-Dahhak mengatakan bahwa malam hari tidak akan pergi dari arah ini sebelum siang hari datang dari arah itu seraya berisyarat menunjuk ke arah timur. Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Keduanya saling mengejar yang lainnya dengan waktu yang cepat dan salah satunya muncul dengan kepergian yang lainnya.
Maka yang dimaksud ialah bahwa tidak ada tenggang waktu antara malam dan siang hari, bahkan masing-masing dari keduanya datang menyusul kepergian yang lainnya tanpa tenggang waktu, karena keduanya telah diperintahkan untuk terus-menerus saling silih berganti dengan cepat.

"Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."

Yakni malam, siang, mentari, dan bulan, semuanya beredar di cakrawala langit, menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Ad-Dahhak, Al-Hasan, Qatadah, dan Ata Al-Khurrasani. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa tempat peredarannya ialah di antara langit dan bumi; demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, tetapi riwayat ini garib sekali, bahkan munkar.

Ibnu Abbas r.a. dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf mengatakan dalam cakrawala seperti berputarnya alat penenun. Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan falak ialah perumpamaannya seperti pengengkol alat penggilingan atau seperti pengengkol alat tenun. Alat tenun tidak dapat berputar, melainkan dengan berputarnya alat tersebut. Begitu pula sebaliknya, bila alat tenun berputar, maka ia pun akan ikut berputar.

Wallahu'alam

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Bukti Al Quran Datang dari Sisi Allah

Ayat Mengenai Matahari dan Bulan Beredar di Garis Edarnya Masing-Masing

Ayat Mengenai Langit dan Bumi Dahulunya Menyatu