Ayat Mengenai Matahari dan Bulan Beredar Menurut Perhitungan

Bismillah,

Allah, SWT berfirman dalam Q.S. Ar-Rahman[55] ayat 5 "assyamsu walqamaru bihusbaan" yang artinya "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan," Dalam ayat lain Allah menyatakan bahwa masing-masing matahari dan bulan beredar di garis edarnya masing-masing (QS Al-Anbiya: 33). Dari kedua ayat tersebut diketahui bahwa lintasan peredaran (garis edar) dan waktu peredarannya telah ditentukan sehingga kita dapat mengetahui kecepatan matahari dan bulan dalam beredar. 


Menurut pengamatan yang dilakukan, jarak rata-rata matahari dari inti Bima Sakti adalah 26.000 tahun cahaya dan Kecepatannya dalam beredar mengitari pusat galaksi (inti bima sakti) adalah 220 km/detik. Matahari dan bulan sebagai obyek ciptaan Allah SWT telah menjadi dua unsur yang sangat berharga dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam penghitungan waktu.  Contohnya adalah penentuan kalender masehi dan kalender hijriyah.

Kalender Islam (hijriyah) menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari. Selain itu, pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari dan tanggal dimulai pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dan tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut ( Bulan, Bumi dan Matahari). Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atauijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

Kalender Masehi perhitungannya didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari atau peredaran matahari semu dimulai pada saat matahari berada pada titik Aries. Hal itu terjadi pada setiap tanggal 21 Maret hingga kembali lagi ke tempatnya semula. Ketika bumi berevolusi, ternyata poros bumi tidak tegak lurus terhadap bidang ekliptika, melainkan miring dengan arah yang sama membentuk sudut 66,50. Perioderevolusi bumi Untuk sekali putaran membutuhkan waktu sebanyak 365,2425 hari. Oleh karena kalender Masehi ini perhitungannya didasarkan pada peredaran matahari dikenal dengan tahun “Syamsiyah,SolarSystematau tahun Surya.

Kalender islam dalam peredarannya, bulan melakukan tiga gerakan sekaligus, yaitu rotasi, revolusi, dan bersama dengan bumi mengitari matahari. Periode rotasinya sama dengan periode revolusinya. Akibatnya, muka bulan yang menghadap bulan selalu sama yakni separuh bagian dan bagian lain tidak pernah menghadap ke bumi. Untuk satu kali bergerak berputar mengelilingi bumi, bulan memerlukan waktu selama 27 1/3 hari yang disebut satu bulan sideris. Sebenarnya, pada saat tersebut bumi telah bergerak mengitari matahari sejauh 270. Jadi, bulan harus menempuh selisih jarak tersebut agar kembali ke posisi semula relative terhadap matahari. Dengan demikian, selang waktu satu kali revolusi bulan adalah 29 ½ hari yang disebut satu bulan sinodis (qomariah). Dari kedudukan bulan yang berbeda-beda menghasilkan bentuk bulan yang berbeda pula yang disebut fase bulan seperti yang dijelaskan sebelumnya di atas.

Kedua kalender di atas memiliki jumlah bulan yang sama dalam setahun yaitu sebanyak 12 bulan, hal tersebut telah Allah nyatakan dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 36. Dari sini kita telah mengetahui bahwa fakta 1 tahun terdiri dari 12 bulan tidak bertentangan dengan firman Allah.

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Bukti Al Quran Datang dari Sisi Allah

Ayat Mengenai Matahari dan Bulan Beredar di Garis Edarnya Masing-Masing

Ayat Mengenai Langit dan Bumi Dahulunya Menyatu